Terbongkar ! Alasan Presiden Jokowi Tak Temui Pendemo Ahok Ternyata Mengejutkan

0


berita.rizalmedia.com - Terkait demo 4-11 kemarin, bukan dari sudut pandang agama melainkan dari Political Judgment Perspective. Bagi yang pengen tau, apa itu Political Judgment, ada 1 buku referensi dari Philip E. Tetlock dengan judul "Expert Political Judgment: How good is it? How Can we know". Buku ini membahas salah satunya bagaimana sebuah negara dapat memprediksi event2 yang akan terjadi dengan mengolah informasi dari parameter2 yang sudah ada walaupun sangat minim. Political Judgment ini juga bisa digunakan untuk Business Forecast. Uhuk uhuk...

Well, langsung saja di Question & Answer biar lebih enak.

====
Saat Aksi Damai, Massa sudah berkumpul hingga puluhan ribu atau bahkan hingga ratusan ribu. Kenapa Presiden ga mau nemuin perwakilan pendemo?

1. Protokoler presiden itu komplek. Untuk orang yang diundang saja sudah sangat ketat. Alur yang pertama, penerima undangan harus menelepon ke pihak istana bahwa dia akan datang melalui nomor extension yang telah ditentukan. Alur kedua, tamu undangan yang datang harus sesuai dengan identitas asli dan membawa undangan asli yang diberikan oleh Istana Negara. Belum lagi beberapa lapis proses pengamanan yang ada di dalam istana. Masing-masing tamu Undangan tentu akan diawasi gerak-geriknya oleh Pasukan-pasukan di istana.
2. Protokoler presiden tidak berjalan sendiri. Paspampres kita merupakan paspampres yang sangat terkenal di dunia, yang merupakan pasukan-pasukan pilihan dari Kopasssus, Marinir, Kopaskhas dan Kostrad tentu tidak main-main bila berhubungan dengan keamanan presiden. Belum lagi dibantu oleh Mabes Polri, Densus hingga BIN. Jadi informasi sedikit saja yang akan menjadi ancaman bagi Presiden, mereka2 ini sudah tau. Dan sudah barang tentu Paspampres akan memperingatkan presiden. Bahkan, salah 1 sumber berita online menyampaikan, Presiden tidak diperkenankan menemui para demonstran atas masukan dari Danpaspampres Brigjen TNI Bambang Suswanto.

====

Presiden ngumpet nih, cemen!

Eits, siapa bilang? Presiden tidak bisa ditemui karena memang diumpetin oleh Paspampres. Situ mau berantem sama Paspampres? FYI, 1 orang Paspampres sudah terlatih untuk bisa mengalahkan minimal 10 prajurit TNI biasa hanya dengan menggunakan 1 bilah sangkur. Bayangkan 1 Paspampres pegang sangkur + handgun + laras panjang. Dan bayangkan berapa jumlah Paspampres di dalam ring 1. Berapa biji kepala bakal hancur ditembus peluru tajam klo ring 1 presiden sampai ditembus? Belum lagi TNI dan POLRI di luar ring 1. Wong polisi cuman lempar gas air mata aja udah pada kalang kabut gemeteran gitu.
Tujuan awal dari Aksi Damai itu adalah ingin melakukan Demo Damai. Ya itu hak warga negara. Tapi tidak ada kewajiban secara undang undang, bahwa presiden wajib menemui para pendemo, meskipun jumlahnya banyak. Udah untung ditemuin sama Menkopolhukam dan Wapres (walaupun ini atas perintah presiden).

===

Klo Presiden nemuin perwakilan demonstrasi, ga bakalan terjadi seperti itu!

Coba lihat, pada tanggal 2 November Koh Ahok blusukan di daerah Rawa Belong. Baru aja Ahok nyalamin warga, ternyata udah dicegat sekitar 30an orang yang langsung bikin ribut. Seketika Polisi yang dipimpin Kapolsek Kebun Jeruk, Kompol Lambe menginstruksikan kepada tim kampanye untuk mengevakuasi Koh Ahok naik angkot. Tau enggak, 1 insiden inilah menjadi salah 1 parameter Istana, bahwa kondisi Jakarta saat itu memang sedang tidak kondusif. Tentu ini menjadi bahan masukan, rekomendasi apa yang diberikan Istana terkait keamanan presiden.

Presiden sudah menyatakan saat bertemu dengan perwakilan MUI, dan Ormas-ormas islam lainnya, bahwa Presiden tidak akan mengintervensi proses hukum Ahok. Lha waktu demo kemarin, koq malah menuntut Presiden supaya Ahok segera dipenjara. Ini khan malah nyuruh Presiden mengintervensi hukum secara langsung. Blunder iki. Terang saja Presiden emoh. Presiden pernah menelan pil pahit blunder seperti ini saat menemui demonstrasi massa waktu beliau masih menjabat Gubernur DKI beberapa waktu yang lalu

===

Jokowi khan juga muslim, kenapa ga mau nemuin perwakilan Ulama waktu Demo itu?

Pertemuan antara Presiden dan Perwakilan umat muslim dan ulama khan sudah dilakukan sebelumnya oleh presiden, NU, Muhammadiyah, Kementrian Agama dan MUI. Bukannya MUI merupakan perkumpulan atau majelis dari para ulama umat islam yang ada di Indonesia. So, clear khan?

Banyak yang bilang, bahwa demo murni untuk Long March secara damai saja. Bahkan Korlap Aksi Damai menyatakan siap melakukan demo secara damai dan santun. Tetapi kenyataannya, waktu demo, sudah banyak disusupi orang2 suruhan, mereka yang demo aja ga ada yang kenal sama orang2 itu. Khan runyam. Percayalah, ketemu presiden atau enggak hasilnya akan tetap sama. Kisruh.
Salah 1 buktinya, pada demo kemarin, ada oknum yang sengaja menyalakan petasan. Kenapa? Dengan menyalakan petasan, maka peserta demo yang lain akan beranggapan mereka sedang ditembaki oleh polisi. Hasilnya, bisa ditebak

===

Dan terakhir yang pualing lucu menurut saya adalah banyak dari mereka yang saat pemilihan presiden kemarin menjadi pendukung capres sebelah. Pas Pak Dhe udah jadi presiden, yo masih ga mau move on. Pas udah jadi presiden 2 tahun, tiba2 presidennya diganti dari Turki sana, diimpor langsung katanya. Trus pas ada butuhe, minta ditanggepi. Klo boleh diumpamakan Pak Dhe Jokowi berpikir seperti ini,
"Aq kiy wes ra dianggep, dielek2, sing jarene krempeng plonga plongo, anak e Cino kafir, PKI dsb, eee pas awak e butuh, moro2 menyang nang omahku sambat karo njaluk digawekke wedhang Kopi. Lha kowe sopo jhe?"
Wekekek...

Klo masalah Koh Ahok, ya sebagai warga negara yang baik, kita ikuti saja hukum yang berlaku. Dan berlapang dadalah ketika putusan hukum tidak sesuai dengan keinginan sampeyan-sampeyan. Biarkan Allah bekerja dengan caraNYA, karena DIA sangat mencintai Indonesia dan keberagamannya... Uhuk-uhuk...

Sekian

#PresidenKerja
Share on Google Plus
Share :

Komentar Facebook:

0 Komentar Blog: