Menjadi Saksi di Persidangan, Terungkap Alasan Ketua MUI Tuding Ahok Hina Al Quran

0
berita.rizalmedia.com - kasus penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok saat ini kembali digelar di meja hijau. Pada persidangan kali ini sejumlah saksi kembali dihadirkan termasuk Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma'ruf Amin.

Dalam kesaksiannya di hadapan Majelis Hakim, Ma'aruf mengungkapkan apabila Ahok melakukan penistaan Al Quran dan ulama. Pendapatnya itu dikuatkan kajian yang sudah dilakukan. Ia menyampaikan apabila penelitian itu dilakukan sete;ah melihat adanya keresahan dari warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

"Kita melakukan penelitian, investigasi di lapangan, dan menyimpulkan bahwa ucapannya itu mengandung penghinaan terhadap Alquran dan ulama," kata Ma'aruf. "Permintaan dari masyarakat ada yang lisan, ada yang tertulis.

Agar masalah ini ada pegangannya. Ada forum-forum, banyaklah saya lupa." Atas permintaan masyarakat itu, pihak MUI sempat menggelar rapat internal dengan melibatkan komisi fatwa, pengkajian, hukum, dan perundang-undangan serta bidang komunikasi informasi. "Keputusan pendapat dan sikap keagamaan Majelis Ulama Indonesia.

Sebab ini produknya bukan komisi fatwa, dikeluarkan MUI walaupun pada hakikatnya fatwa menjadi pendapat dan sikap keagamaan MUI," ungkapnya. Ma'aruf juga menyatakan apabila pihak MUI tidak mempermasalahkan tafsir Al Maidah, namun hanya soal ucapan Ahok yang dinilai merendahkan Al Quran.

"Kami tidak membahas tafsir, atau isinya. Kami membahas kata-katanya. Pendapat yang kita bahas, kesimpulannya bahwa terdakwa memposisikan Alquran sebagai alat kebohongan, memposisikan Alquran sangat rendah dan itu penghinaan. Yang menyampaikan ayat-ayat itu para ulama, maka kesimpulannya melakukan penghinaan terhadap Alquran dan ulama," imbuhnya.

Sedangkan itu, ini merupakan sidang kedelapan untuk kasus penistaan agama yang menjerat Gubernur Petahana itu. Ahok sendiri dijerat dengan Pasal 156 a KUHP tentang Penistaan Agama dengan ancaman penjara paling lama lima tahun.
Share on Google Plus
Share :

Komentar Facebook:

0 Komentar Blog: